Skip to main content

LAPORAN MODUL 3 TEGANGAN PERMUKAAN FARMASI FISIKA



TEGANGAN PERMUKAAN
I.         Tujuan
1.    Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan
2.    Menggunakan alat-alat untuk penentuan tegangan permukaan
3.    Menentukan tegangan permukaan dan tegangan antarmuka zat cair
4.    Menentukan harga konsentrasi Misel Kritik (KMK)

II.                               Prinsip
Tegangan dalam permukaan ini adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Gaya ini tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam satuan cgs. Hal ini analog dengan keadaan yang terjadi bila suatu objek yang menggantung dipinggir jurang pada seutas tali ditarik ke atas oleh seseorang memegang tali tersebut dan berjalan menjauhi seutas tali.
III.                            Teori dasar
Tegangan permukaan ini adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Gaya ini tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam satuan cgs (Martin, 1990).
Tegangan permukaan zat cair di definisikan sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya.
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang harus dikerjakan sejajar permukaan untuk mengimbangi gaya tarikan kedalam pada cairan. Hal tersebut terjadi karena pada permukaan, gaya adhesi (antara cairan dan udara) lebih kecil dari pada gaya khohesi antara molekul cairan sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam pada permukaan cairan (Giancoli, 2001).
            Tegangan antar muka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat pada antar muka dua fase cair yang tidak bercampur. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari pada tegangan permukaan karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar dari pada adhesi antara cairan dan udara (Giancoli, 2001).
Tegangan permukaan dinyatakan sebagai gaya persatuan panjang yang diperlukan untuk memperluas permukaan. Simbol yang digunakan untuk tegangan permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne/cm (Sutrisno, 1992). Tegangan permukaan atau tegangan antar muka adalah suatu gaya nyata yang efeknya tampak pada tingkat makroskopik seperti halnya pada tingkat molekuler. Hal ini dapat dilukiskan dengan meletakkan sebuah kerangka kawat dengan batang yang dapat bergerak dalam larutan energi per satuan luas jika kerja yangdiperlukan untuk memindahkan batang yang bergerak dengan suatu jarak kecil. Kebanyakan antar yang tercakup dalam sistem farmasetik berbentuk lengkung (Lachman,1994). Pengukuran tegangan permukaan dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain (Kosman,2006):
a. Metode Cincin du-Nouy
Cara ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan dan tegangan antar permukaan zat cair. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin yang tercelup pada zat cair yang sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar permukaan. Gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin dalam hal ini diberikan oleh kawat besi yang dinyatakan dalam dyne.
b. Metode kenaikan kapiler
Metode ini hanya dapat digunakan untuk menentukan tegangan suatu zat cair, dan tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur. Bila pipa kapiler dimasukkan ke dalam suatu zat cair, dan tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur. Bila pipa kapiler dimasukkan ke dalam suatu zat cair, maka zat tersebut akan naik ke dalam pipa sampai gaya gerak ke atas diseimbangkan oleh gaya gravitasi ke bahan akibat berat zat cair.
 Pada dasarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya suhu dan zat terlarut. Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan cairan berbentuk lapisan monomolekular yang disebut dengan molekul surfaktan. Faktor-faktor yang menpengaruhi :
1.         Suhu
            Tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu, karena meningkatnya energi kinetik molekul.
2.         Zat terlarut (solute)
            Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar. Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan cairan membentuk lapisan monomolekular, maka akan menurunkan tegangan permukaan, zat tersebut biasa disebut dengan surfaktan.
3.      Surfaktan
            Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan (Douglas.2001).
4.      Konsentrasi zat terlarut
            Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larut termasuk tegangan muka dan adsorbs pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solute yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena konsentrasi dipermukaan yang lebih besar dari pada didalam larutan. Sebaliknya solut yang penambahannya kedalam larutan menaikan tegangan muka mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih kecil dari pada di dalam larutan (Yazid,2003).
Manfaat tegangan permukaan dalam bidang farmasi:
1.      Dalam mempengaruhi penyerapan obat dalam bahan pembantu padat pada sediaan obat
2.      Penetrasi molekul melalui membran biologis
3.      Pembentukan dan kestabilan emulsi dan disperse partikel tidak larut dalam media cair untuk membentuk sediaan suspensi (Giancoli, 2001).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, teridspersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Anief, 2006 : 133). Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamik yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-bola dalam fase cair lain. Sistem dibuat stabil dengan adanya suatu zat pengemulsi (Martin. 1990). Emulsi sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur biasanya air dan minyak dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain, dan dispersi tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.
Kohesi adalah gaya Tarik menarik antar partikel sejenis (partikel-partikel suatu zat tidak dapat bergabung dengan partikel zat lain), Adhesi adalah gaya Tarik menarik antar partikel yang berlainan sejenis(partikel suatu zat dapat bergabung dengan partikel zat lain) (Prasodjo, 2017: 40).

IV.             Alat dan bahan
ALAT
BAHAN
Tensiometer Du Nuoy
Tween 80
Piknometer
Aquadest
Tabung reaksi
Minyak
Pipet tetes

Spatel

Batang pengaduk

Gelas ukur

Labu ukur

Neraca digital





V.                Prosedur kerja
            Ditentukan tegangan antarmuka air dan minyak nabati dengan tensiometer Du nuoy, lalu dibuat larutan seri Tween 80 dengan konsentrasi 0.1, 0.2, 0.3, 0.4, 0.5, 1.0, 2.0, 3.0,4.0 ad air 50Ml. Dihitung BJ dari masing-masing larutan Tween 80 menggunakan Tensiometer Du nuoy, lalu dibuat Kurva nilai tegangan permukaan (y) terhadap nilai konsentrasi surfaktan (% b/v). ditentukan nilai dan titik KMK dari kurva yang telah dibuat, kemudian dijelaskan hubungan antara BJ terhadap tegangan permukaan dari larutan seri Tween 80.
VI.        Data pengamatan
A.    Perhitungan tegangan permukaan (dyne/cm)
air      skala yang terbaca  x F
72,8 = 49 x F
 
0,1     22 x 1,48 = 32,56 dyne/cm
0,2     25 x 1,48 = 37 dyne/cm
0,3     26 x 1,48 = 38,48 dyne/cm
0,4     26,5 x 1,48 = 39,22 dyne/cm
0,5    25 x 1,48 = 37 dyne/cm
1,0     22 x 1,48 = 32,56 dyne/cm
2,0     20 x 1,48 = 29,6 dyne/cm
3,0     22 x 1,48 = 32,56 dyne/cm
4,0     19,5 x 1,48 = 28,86 dyne/cm





B.     Perhitungan Bobot jenis seri tween 80

Dik : W1 = Pinkometer kosong
          W2 = Pinkometer kosong ditambahkan aquadest
          W3 = Pinkometer kosong ditambahkan larutan uji
          W1 = 18,47 dan W2 = 29,8
        
0.1 =  =  = 0,997
0,2 =  =  = 0,995
0,3 =  =  = 0,997
0,4 =  =  = 0,998
0,5 =  =  = 0,996
1,0 =  =  = 0,999
2,0 =  =  = 1,002 dyne/cm
3,0 =  =  = 1,003
4,0 =  =  = 1,003
1.      Tabel tegangan permukaan larutan seri tween 80
Larutan uji (% b/v )
Skala yang terbuka
Tegangan permukaan (dyne/cm)
Tween 0,1
22
32,56 dyne/cm
Tween 0,2
25
37 dyne/cm
Tween 0,3
26
38,48 dyne/cm
Tween 0,4
26,5
39,22 dyne/cm
Tween 0,5
25
37 dyne/cm
Tween 1,0
22
32,56 dyne/cm
Tween 2,0
20
29,6 dyne/cm
Tween 3,0
22
32,56 dyne/cm
Tween 4,0
19,5
28,86 dyne/cm

2.      Tabel bobot jenis seri tween 80
Larutan uji
W1
W2
W3
BJ
Tween 0,1
18,47
29,8
29,77
0,997
Tween 0,2
18,47
29,8
29,75
0,995
Tween 0,3
18,47
29,8
29,77
0,997
Tween 0,4
18,47
29,8
29,78
0,998
Tween 0,5
18,47
29,8
29,76
0,996
Tween 1,0
18,47
29,8
29,79
0,999
Tween 2,0
18,47
29,8
29,83
1,002
Tween 3,0
18,47
29,8
29,84
1,003
Tween 4,0
18,47
29,8
29,84
1,003



VII.          Pembahasan
Tegangan permukaan ini adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam satuan cgs. Besarnya tegangan permukaan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu suhu, zat terlarut, konsentrasi zat terlarut dan surfaktan. Pada percobaan kali ini pengamatan tegangan permukaan menggunakan tensiometer Du Nuoy.  
Metode Tensiometer Du Nuoy menggunakan cincin Du Nuoy bisa digunakan untuk mengukur tegangan permukaan ataupun tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina iridium yang dicelupkan pada permukaan sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka dari cairan tersebut. Untuk penentuan tegangan permukaan saja dapat menggunakan metode kenaikan kapiler. Tween 80 merupakan surfaktan yang dapat menurunkan tegangan antarmuka antara obat dan medium sekaligus membentuk misel sehingga molekul obat akan terbawa oleh misel larut ke dalam medium (Martinet al., 1993).
Surfaktan adalah suatu zat yang mampu menurunkan tegangan permukaan suatu medium, surfaktan dengan konsentrasi yang lebih tinggi molekul-molekul nya dapat masuk kedalam air membentuk misel, konsentrasi pada saat misel mulai tebentuk disebut konsentrasi misel kritik (KMK).
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal (Ansel, 2006 : 210). Zat yang memiliki bobot jenis lebih kecil dari pada (1,00) maka lebih ringan dari pada air. prinsip uji bobot jenis pada saat dicampurkan antara air dan tween 80 dengan konsentrasi yang berbeda-beda menunjukan semakin besar konsentrasi zat terlarut suatu larutan semakin besar pula bobot jenis larutan tersebut.
Penggunaan tween 80 dalam beberapa konsentrasi sebagai pembanding karena makin besar konsentrasinya makin turun nilai KMK nya. Pada hasil pengamatan percobaan tegangan permukaan didapat nilai titik KMK pada Tween dengan konsentrasi antara 0,4 : 0,5 : 1 : 2.
Manfaat tegangan permukaan dalam dunia farmasi adalah supaya ketika pembuatan obat dapat mempengaruhi penyerapan obat, juga mampu mempenetrasi obat melalui membran biologis, dan dapat membentuk obat yang stabil, khususnya pada saat pembuatan emulsi dan suspense.
Hasil dari bobot jenis pada pengamatan percobaan cenderung mendekati nilai 1,00 sesuai dengan literatur dan bobot jenis air dan peristiwa ini mencapai tegangan permukaan tertinggi.

VIII.       Kesimpulan
1.      Hasil yang didapat diketahui bahwa semakin besar atau tinggi konsentrasi suatu zat maka kerapatannya justru semakin kecil
2.      Alat yang digunakan untuk menentukan tegangan permukaan adalah piknometer
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan adalah suhu, zat terlarut (solute), surfaktan.


DAFTAR PUSTAKA
Martin, A dkk. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid I. UI-Press. Jakarta.
Budi Prasodjo, dkk. op.cit., Fisika.2007.
Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid 1 (Terjemahan), Jakarta: Penerbit Erlangga.
Howard C. Ansel, Shelly J. Prinec.2006. Kalkulasi Farmasetik. Penerbit Buku Kedokteran : EGC : Jakarta
Parrot, L.E. (1970). Pharmaceutical Technology. Mineneapolis:Burgess Publishing Company.



               
           


Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN MODUL 5 VISKOSITAS DAN RHEOLOGI FARMASI FISIKA

PERCOBAAN 5 VISKOSITAS DAN RHEOLOGI I.                    Tujuan Percobaan 1.1     Menerangkan arti viskositas dan rheologi 1.2     Membedakan cairan Newton dan cairan Non-Newton 1.3     Menentukan alat-alat penentuan viskositas dan rheologi 1.4     Menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton dan Non-Newton 1.5     Menerangkan pengaruh BJ terhadap viskositas larutan II.                 Prinsip Percobaan Menentukan viskositas gliserin, propilenglikol, sirupus simpleks dengan mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung yang menggunakkan viskometer bola jatuh pada suhu tertentu. Mengukur viskositas dan sifat aliran cairan dengan menggunakan viskometer Brookfield berdasarkan kecepatan rotasi spindel 61, 62, 63 dan 64 dari suatu cairan...