Modul 2
STABILITA OBAT
I.
Tujuan
Percobaan
1.1 Menentukan tingkat reaksi penguraian suatu zat
1.2 Menentukan energi aktivasi dari reaksi penguraian suatu zat
1.3 Menentukan waktu kadaluarsa suatu zat
1.4 Menggunakan data kinetika kimia untuk memperkirakan kestabilan suatu zat
1.5 Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat
II.
Prinsip
Percobaan
Menentukan
stabilitas larutan Indometasin dengan cara uji stabilitas dipercepat pada suhu
600,700, dan 800C dengan rentang waktu 10, 30,
60, 90, dan 120 menit, dan menentukan waktu kadaluarsa larutan Indometasin
dengan menentukan tingkat/orde reaksi penguraian melalui metode substitusi dan
metode grafik, energi aktivasi menggunakan persamaan Arrhenius, dan K
pada suhu 250C.
III.
Teori
Dasar
Stabilitas obat adalah kemampuan obat atau produk untuk mempertahankan
sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat
atau diproduksi. Identitas, kekuatan, kualitas, dan kemurnian dalam batasan
yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan (Joshita, 2008:
4).
Stabilita sediaan farmasi tergantung pada profit sifat fisika dan kimia
pada sediaan yang dibuat (termasuk eksipien dan sistem kemasan yang digunakan
untuk formulasi sediaan) dan fraksi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan
cahaya (Joshita, 2008: 5).
Pada
umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan melalui perhitungan
kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis
digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal penting diperhatikan dalam penentuan
kestabilan suatu obat secara kinetika kimia adalah (Anonim, 2013):
1. Kecepatan Disolusi
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
reaksi
3. Tingkat reaksi dan cara penentuan
Adapun efek-efek tidak diinginkan yang potensial dari ketidakstabilan
produk farmasi yaitu hilangnya zat aktif, naiknya konsentrasi zat aktif, bahan
obat berubah, hilangnya keseragaman kandungan, menurunnya status mikrobiologi,
hilangnya kekedapan kemasan, modifikasi faktor hubungan fungsional, serta faktor
lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan cahaya (Joshita, 2008: 8).
Suatu
obat dapat dikatakan stabil jika kadarnya tidak berkurang dalam penyimpanan.
Adapun ketika obat berubah warna, bau, dan bentuk serta terdapat cemaran
mikroba maka dapat disimpulkan bahwa obat tersebut tidak stabil (Fitriani, 2015: 22).
Ada
beberapa metode penentuan laju reaksi untuk menguji stabilita, di antaranya:
a.
Metodensubstitusi
Data yang terkumpul dari hasil
pengamatan jalannya suatu reaksi disubstitusikan ke dalam bentuk integral dari
persamaan berbagai orde reaksi. jika persamaan itu menghasilkan harga K yang
tetap konstan dalam batas-batas variasi percobaan, maka reaksi dianggap
berjalan sesuai dengan orde tersebut(Martin dkk., 2008).
b.
Metodemgrafik
Plot data dalam bentuk grafik dapat
digunakan untuk mengetahui orde reaksi tersebut. Jika konsentrasi di plot
terhadap t dan didapat garis lurus, reaksi adalah orde nol. Reaksi dikatakan
orde pertama bila log (a-x) terhadap t menghasilkan garis lurus. Suatu reaksi
orde kedua akan memberikan garis lurus bila 1/ (a-x) diplot terhadap t (jika
konsentrasi mula-mula sama). Jika plot 1 /(a-x)² terhadap t menghasilkan garis
lurus dengan seluruh reaktan sama konsentrasi mula-mulanya,reaksi adalah orde
ketiga (Martin dkk., 2008).
c.
Metodenwaktunparuh
Dalam reaksi orde nol, waktu paruh
sebanding dengan konsentrasi awal, a. Waktu paruh reaksi orde pertama tidak
bergantung pada a; waktu paruh untuk reaksi orde kedua, dimana a = b
sebanding dengan 1/a dari dalam reaksi orde ketiga, dimana a = b = c, sebanding
dengan 1/a². Umumnya berhubungan antar hasil di atas memperlihatkan waktu paruh
suatu reaksi dengan konsentrasi seluruh reaktan sama(Martin dkk., 2008).
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain: panas, cahaya,
kelembaban, oksigen, pH, mikroorganisme, dan bahan-bahan tambahan yang
digunakan dalam formula sediaan obat. Sebagai contoh, senyawa-senyawa ester
merupakan zat yang mudah terhidrolisis dengan adanya lembab sedangkan vitamin C
sangat mudah sekali mengalami oksidasi. Pada umumnya, penentuan kestabilan
suatu obat zat padat dapat dilakukan melalui perhitungan kinetika kimia. Cara
ini tidak memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis digunakan dalam bidang
farmasi (Fitrah, 2012: 14).
Dahulu untuk mengevaluasi suatu kestabilan sediaan
farmasi dilakukan pengamatan pada kondisi dimana obat tersebut disimpan,
misalnya pada temperatur kamar. Ternyata metode ini memerlukan waktu lama dan
tidak ekonomis. Sekarang untuk mempercepat analisis dapat dilakukan “Uji Stabilitas
Dipercepat”, yaitu dengan mengamati perubahan konsentrasi pada suhu tinggi.
Dengan membandingkan harga k dan temperatur yang berbeda dapat dihitung energi
aktivasinya sehingga k pada suhu kamar pun dapat dihitung. Harga k pada suhu
kamar dapat juga dihitung dari grafik antara log 1 dengan 1/T. Dengan demikian
batas kadaluarsa suatu sediaan farmasi dapat diketahui dengan tepat (Fitrah,
2012: 14).
Laju reaksi mengukur seberapa
cepat reaktan habis bereaksi atau seberapa cepat produk terbentuk. Kinetika
kimia merujuk pada laju reaksi yang perubahan konsentrasi reaktan atau produk
terhadap waktu. Setiap reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan umum yaitu
reaktan menghasilkan produk. Selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul
reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk sebagai hasilnya dapat
mengamati jalannya reaksi dengan cara memantau menurunnya konsentrasi reaktan
atau meningkatnya konsentrasi produk. Menurunnya jumlah molekul A dan
meningkatnya molekul B seiring dengan jalannya waktu. Secara umum, akan lebih
mudah apabila menyatakan laju dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu
(Chang, 2005: 29-30).
Kecepatan laju reaksi yang
berbanding lurus terhadap konsentrasi dengan satu atau dua pengikut berpangkat
dua akan disebutkan sesuai jumlah pangkat. Reaksi disebut bertingkat tiga bila
kecepatan reaksinya berbanding lurus dengan konsentrasi tiga pengikut (Bird,
2003).
Hukum laju reaksi merupakan
suatu bentuk persamaan yang menyatakan laju reaksi sebagai fungsi dari
konsentrasi semua spesies yang ada termasuk produk-produk yang dihasilkan dalam
reaksi tersebut. Hukum laju reaksi mempunyai dua penerapan utama, yaitu
penerapan teoritis yang merupakan pemandu dalam mekanisme reaksi, sedangkan
penerapan praktiknya akan dilakukan setelah mengetahui hukum laju reaksi dan
konstanta lajunya (Atkins, 2006).
Proses laju merupakan hal dasar yang
perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian,
mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus dengan jelas
menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil
sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama dimana obat tidak
berubah menjadi zat tidak berkhasiat atau racun. Ahli farmasi harus mengetahui
ketidakstabilan potensial obat yang dibuatnya. Dokter dan penderita harus
diyakinkan bahwa obat yang digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan
dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai efek pengobatan yang diinginkan
(Martin dkk., 2008: 145).
Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat
dilakukan dengan cara kinetika kimia karena tidak memerlukan waktu lama.
Menurut Hukum Aksi Masa, kecepatan reaksi adalah sebanding dengan hasil kali
konsentrasi molar reaktannya yang masing-masing dipangkatkan dengan jumlah
molekulnya (Fitrah, 2012: 13).
aA + bB Ã cC + dD
V = K [A]a [B]b
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan reaksi (Fitrah, 2012: 13):
1.
Temperatur
2.
Kekuatan
ion
3.
Pengaruh
pH
4.
Adanya
katalis
Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan
fotometer. Spektrometer ialah alat yang menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu. Spektrometer memiliki alat pengurai seperti prisma
yang dapat menyeleksi panjang gelombang dari sinar putih. Sedangkan fotometer
adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsikan.
Pada fotometer terdapat filter dari berbagai warna yang memiliki spesifikasi
melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Spektrofotometer menghasilkan
sinar dan spektrum dengan panjang gelombang dan fotometer adalah alat pengukur
intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer
digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan,
direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang (Khopkar,
2003: 325).
Prinsip kerja alat ini
berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monoakromatik melalui suatu media
(larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan dan
sebagian dipancarkan. Transmitan adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan
ketika melewati sampel dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati
sampel (Khopkar, 2003: 326).
IV.
Alat
dan Bahan
Alat
|
Bahan
|
Timbangan
|
Dapar fosfat
|
Labu Takar 100 mL
|
Larutan Indometasin
|
Labu Takar 50 mL
|
Air suling
|
Labu Takar 10mL
|
Etanol
|
Spektofotometri
|
NaOH
|
Kuvet
|
|
Gelas Kimia
|
|
Spatel
|
|
Pipet Tetes
|
|
Vial
|
|
Gelas Ukur
|
|
Oven
|
|
Stopwatch
|
V. Prosedur Percobaan
5.1 Pembuatan larutan stok.
Dibuat larutan NaOH untuk titrasi, NaOH ditimbang
sebanyak 2 gr dimasukan kedalam beaker glass kemudian dilarutkan dengan
ditambahkan aquadest. Dimasukan ke dalam buret kemudian ditambahkan aquadest
sampai 50 ml.
5.2
Pembuatan larutan induk Indometasin.
Dibuat larutan induk indometasin
4mg/100 mL dengan melarutkan 2 mL larutan stok yang telah dibuat menggunakan
larutan dapar pH 8 dalam labu takar 100 mL sebanyak 2 labu.
5.3
Uji stabilitas obat dipercepat
Dimasukan 5 mL larutan induk
indometasin ke dalam 32 vial. Kemudian 2 vial dalam suhu kamar 25o diukur
absorbansi atau serapannya pada rentang λ = 200-350nm, dimana λmax
indometasin = 320nm. Ditentukan konsentrasi dengan menggunakan persamaan
regresi linier melalui pembuatan kurva kalibrasi. Konsentrasi ini dianggap
sebagai konsentrasi awal Indometasin untuk masing-masing suhu penyimpanan (Co).
Lalu masing-masing 10 vial disimpan dalam oven bersuhu 60o, 70o
dan 80oC. Setelah 10 menit vial diambil dari masing-masing suhu,
lalu didinginkan dalam lemari es selama 5 menit untuk meghentikan reaksi
penguraian. Kemudian larutan ditentukan absorbansi atau serapan dengan
spektrofotometri pada λ = 320 nm. Selanjutnya pada waktu 30, 60, 90, dan 120
menit setelah pengambilan awal diambil 2 vial dari setiap suhu, lalu
didinginkan dalam lemari es selama 5 menit untuk meghentikan reaksi penguraian.
Larutan ditentukan absorbansi atau serapan dengan spektrofotometri pada λ = 320
nm. Ditentukan konsentrasi dengan menggunakan persamaan regresi linier melalui
pembuatan kurva kalibrasi, lalu ditentukan konsentrasi indometasin yang tersisa
setelah waktu 10, 30, 60, 90, dan 120 menit tersebut.
5.4
Penentuan waktu kadaluarsa larutan indometasin
Ditentukan tingkat atau orde reaksi
penguraian dengan metode substitusi dan metede grafik, kemudian dihitung Energi
aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan Arrhenius, lalu ditentukan K
pada suhu kamar (25oC), kemudian dihitung kadaluarsa larutan
indometasin tersebut pada suhu kamar, jika larutan tersebut sudah tidak dapat
digunakan maka larutan tersebut telah terurai sebanyak 10%.
VI.
Data
Pengamatan
6.1
Tabel Pengamatan Uji Stabilitas dipercepat pada suhu 25˚, 60˚, 70˚, 80˚C
Tabel 1
Suhu
Kamar 25˚C
T
(menit)
|
Absorbansi
|
Rata-rata
Absorbansi
|
Konsentrasi
|
Ct
|
Ln Ct
|
1/Ct
|
|
0
|
0,738
|
0,744
|
0,741
|
0,0374
|
0,0374
|
-
3,286
|
26,7379
|
Suhu 60˚C
T
(menit)
|
Absorbansi
|
Rata-rata
Absorbansi
|
Konsentrasi
|
Ct
|
Ln Ct
|
1/Ct
|
|
10
|
0,695
|
0,721
|
0,708
|
0,0357
|
0,0357
|
-
3,3326
|
28,0112
|
30
|
0,688
|
0,736
|
0,712
|
0,0359
|
0,0359
|
-3,3270
|
27,8551
|
60
|
0,640
|
0,655
|
0,6475
|
0,0326
|
0,0326
|
-3,4236
|
30,6748
|
90
|
0,660
|
0,644
|
0,652
|
0,0329
|
0,0329
|
-3,4142
|
30,3951
|
120
|
0,510
|
0,591
|
0,5505
|
0,0277
|
0,0277
|
-3,5863
|
36,1010
|
Suhu
70˚C
T
(menit)
|
Absorbansi
|
Rata-rata
Absorbansi
|
Konsentrasi
|
Ct
|
Ln Ct
|
1/Ct
|
|
10
|
0,692
|
0,724
|
0,708
|
0,0357
|
0,0357
|
-3,3326
|
28,0112
|
30
|
0,672
|
0,683
|
0,6775
|
0,0342
|
0,0342
|
-3,3755
|
29,2397
|
60
|
1,145
|
1,101
|
1,123
|
0,0568
|
0,0568
|
-2,8682
|
17,6056
|
90
|
0,559
|
0,536
|
0,5475
|
0,0276
|
0,0276
|
-3,5899
|
36,2318
|
120
|
0,476
|
0,471
|
0,4735
|
0,0238
|
0,0238
|
3,7380
|
42,0168
|
Suhu
80˚C
T
(menit)
|
Absorbansi
|
Rata-rata
Absorbansi
|
Konsentrasi
|
Ct
|
Ln Ct
|
1/Ct
|
|
10
|
0,684
|
0,720
|
0,702
|
0,0354
|
0,0354
|
-3,3410
|
28,2485
|
30
|
0,643
|
0,636
|
0,6395
|
0,0322
|
0,0322
|
-3,4357
|
31,0559
|
60
|
0,546
|
0,585
|
0,5655
|
0,0285
|
0,0285
|
-3,5578
|
35,0877
|
90
|
0,408
|
0,402
|
0,405
|
0,0203
|
0,0203
|
-3,8971
|
49,2610
|
120
|
0,266
|
0,215
|
0,2405
|
0,0120
|
0,0120
|
-4,4228
|
83,3333
|
Tabel II
Suhu
|
T
|
||
Ordo
0
|
Ordo
1
|
Ordo
2
|
|
60°
|
a = 0,037 r =
-0,921
b
= -6,885 x 10-3
|
a = -3,28 r = 0,913
b
= -2,156 x 10-3
|
a = 26,393 r = 0,904
b = 0,079
|
70°
|
a = 0,042 r = -0,401
b
= -6,885 x 10-4
|
a = -3,1426 r = -0,516
b
= -3,84 x 10-3
|
a = 22,564 r = 0,626
b = 0,129
|
80°
|
a = 0,038 r = 0,986
b = -2,111 x 10-4
|
a = -3,142 r = 0,957
b
= -9,49 x 10-3
|
a = 16,44 r = 0,913
b
= 0,466
|
Tabel
III
Suhu
|
(
K
)
|
K = b
|
Ln K
|
60
|
=
= 3 x 10-3
|
-6,885 x 10-5
|
-9,5835
|
70
|
=
= 2,9 x 10-3
|
-1,156 x 10-4
|
-9,0653
|
80
|
=
= 2,83 x 10-3
|
-2,111 x 10-4
|
-8,4632
|
6.2 Perhitungan
6.2.1 Perhitungan Larutan Stok
Larutan Stok mengandung :
Indometasin 50 mg dan Etanol 25 mL
Konsentrasi Larutan Stok =
= 2 mg/mL
6.2.2 Perhitungan volume larutan induk Indometasin jika konsentrasi
0,04 mg / mL
Dik : N1 = 2 mg
V2 = 100 mL
N2 = 0,04 mg/mL
Dit : .....?
Jawab :V1 x N1
= V2 x N2
V1 x 2mg/mL = 100
mL x 0,04 mg/mL
V1
= 2 mL (diambil dari larutan stok)
Catatan : Larutan Induk Indometasin dibuat duplo.
6.2.3 Perhitungan Rata-rata absorbansi dan Konsentrasi
1.
Suhu
25˚C t0 (menit ke-0)
Rata-rata absorbansi =
= 0,741 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,741 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,741 – 0,0037
x =
= 0,0374
2.
Suhu
60˚C t0 (menit ke-0)
Rata-rata absorbansi =
= 0,708 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,708 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0357
3.
Suhu
70˚C t0 (menit ke-0)
Rata-rata absorbansi =
= 0,708 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,708 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0357
4.
Suhu
80˚C t0 (menit ke-0)
Rata-rata absorbansi =
= 0,702 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,702 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0354
5.
Suhu
60˚C t30 (menit ke-30)
Rata-rata
absorbansi =
= 0,712= y
Konsentrasi
:
y = 19,7x + 0,0037
|
0,712 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0359
6.
Suhu
70˚C t30 (menit ke-30)
Rata-rata
absorbansi =
= 0,6775 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,6775 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0342
7.
Suhu
80˚C t30 (menit ke-30)
Rata-rata absorbansi =
= 0,6395 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,6395 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0322
8.
Suhu
60˚C t60 (menit ke-60)
Rata-rata absorbansi =
= 0,6475 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,6475 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0326
9.
Suhu
70˚C t60 (menit ke-60)
Rata-rata absorbansi =
= 1,123 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
1,123 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0568
10.
Suhu
80˚C t60 (menit ke-60)
Rata-rata absorbansi =
= 0,5655 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,5655 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0285
11.
Suhu
60˚C t90 (menit ke-90)
Rata-rata absorbansi =
= 0,652 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,652 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0329
12.
Suhu
70˚C t90 (menit ke-90)
Rata-rata absorbansi =
= 0,5475 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,5475 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0276
13.
Suhu
80˚C t90 (menit ke-90)
Rata-rata absorbansi =
= 0,405 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,405 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0203
14.
Suhu
60˚C t120 (menit ke-120)
Rata-rata absorbansi =
= 0,5505 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,5505 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0277
15.
Suhu
70˚C t120 (menit ke-120)
Rata-rata absorbansi =
= 0,4735 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,4735 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0238
16.
Suhu
80˚C t120 (menit ke-120)
Rata-rata absorbansi =
= 0,2405 = y
Konsentrasi :
y = 19,7x + 0,0037
|
0,2405 = 19,7x + 0,0037
19,7x = 0,708 – 0,0037
x =
= 0,0120
6.2.4 Perhitungan Orde terpilih (orde 0)
Dik
: a = 10,111
b = -6572,7
r = -0,997
1.
Persamaan
regresi linear : y = a
bx
y = 10,111 – 6572,74 X
2.
Perhitungan Ea :
Ea = b x R
Ea = -6572,74 x 1,9987 =
-13066,038 kal/0 mol.
3.
Perhitungan Ln K25:
Ln
K25 = Ln A – [
x
]
Ln
K25 = 2,3136 – [
x
]
= 2,3136 – [-22,056]
= 24,3696
4.
Perhitungan
antilon K25 :
K25 = Antilon 24,3696
K25 = 3,83 x 1010
5.
Mencari waktu
kadaluarsa : Ct = Co – k . t
0,0336
= 0,0374 – 3,83 x 1010 . t90
C
. t90 = 0,0374 – 0,0336
t90
=
t90
= 992167,018 menit
= 165361 ,187 jam
= 6890 hari
6.3 Kurva Konsentrasi larutan Indometasin terhadap waktu
VII.
Pembahasan
Pada percobaan ini menentukan stabilitas larutan
Indometasin yang dilakukan dengan cara uji stabilitas dipercepat pada suhu 600,700,
dan 800 C. Pengujian dilakukan dengan cara diukur konsentrasi
Indometasin sisa dalam larutan pada waktu-waktu tertentu. Kemudian larutan
Indometasin yang diuji adalah larutan induk dengan konsentrasi 4,0 mg/100 mL.
Larutan induk Indometasin dibuat sebanyak 4,0 mg/100 mL dalam larutan dapar
posfat pH 8 yang bertujuan untuk menjaga kestabilan pH Indometasin pada saat
diuji agar tidak berubah-ubah, karena pada literatur Indometasin tidak akan
stabil jika pH berada dibawah 6. Larutan induk Indometasin dimasukkan kedalam
36 vial sebanyak masing-masing 5 mL dan disimpan di oven pada berbagai
temperatur yaitu 25˚, 60˚, 70˚, dan 80˚ C. Adapun tujuan dilakukan pada
berbagai suhu ini adalah dimaksudkan untuk membedakan atau mengetahui pada suhu
berapa obat dapat stabil dengan baik dan pada suhu berapa obat akan terurai
dengan cepat. Jika menggunakan suhu yang tinggi kita mampu mengetahui
penguraian obat dengan cepat sedangkan jika menggunakan suhu kamar dalam
pengujian maka butuh waktu lama untuk dapat terurai. Alasan menggunakan suhu
tinggi karena bila kita ingin mengetahui batas kestabilan suatu obat (batas
kadaluarsanya), maka obat harus disimpan pada jangka waktu yang lama sampai
obat tersebut berubah, hal ini tentu tidak
bisa dilakukan karena keterbatasan waktu, sehingga kita menggunakan suhu
yang tinggi maka akan semakin cepat bahan obat tersebut untuk terurai.
Selain dilakukan pengujian pada berbagai
temperatur pengujian dilakukan pada berbagai rentang waktu yaitu 0, 10, 30, 60,
90, dan 120 menit yaitu untuk mengetahui pada setiap rentang waktunya
kestabilan Indometasin semakin berkurang atau batas kadaluarsa Indometasin
semakin cepat. Larutan induk yang telah di oven kemudian diambil masing-masing
2 vial pada berbagai temperatur dan waktu diatas dan dimasukkan terlebih dahulu
kedalam freezer selama 5 menit yang bertujuan untuk menghentikan reaksi
penguraiannya agar tidak terus-menerus bereaksi, setelah itu larutan induk
Indometasin diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada
, prinsip kerja dari spektrofotometer
yaitu alat ini berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io) melalui
suatu media larutan, maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian
dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Setelah itu menentukan
konsentrasi dengan menggunakan persamaan regresi linier melalui pembuatan kurva
kalibrasi. Konsentrasi tersebut dianggap sebagai konsentrasi awal Indometasin
untuk masing-masing suhu penyimpanannya (C0) dihasilkan sebesar
0,0374.
Faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas obat sedian
farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan kimia. Faktor utama dari
lingkungan yang dapat menurunkan stabilitas diantaranya temperatur yang tidak
sesuai, cahaya, kelembaban, oksigen dan mikroorgsnisme. Beberapa faktor lain
yang juga mempengaruhi stabilitas suatu zat adalah ukuran partikel, pH,
kelarutan, dan bahan tambahan kimia lainnya.
Pada percobaan ini didapatkan nilai absorbansi di suhu
250 C dengan waktu 10 menit yaitu 0,738, sedangkan nilai
kosentrasinya yaitu 0,374 maka hasilnya akan lebih besar daripada suhu yang
tinggi, hal itu disebabkan karena tidak dipengaruhi oleh suhu yang tinggi
maupun waktu yang lama. Larutan disimpan pada suhu kamar (250 C)
yaitu bertujuan untuk mengetahui perbandingan penguraian obat dalam waktu yang
singkat, karena jika menggunakan suhu kamar dalam pengujian maka butuh waktu
yang lama untuk dapat terjadi penguraian. Sedangkan pada percobaan dengan suhu 60˚,
70˚, dan 80˚ C didapatkan konsentrasi dan stabilitas
larutan Indometasinyang semakin lama semakin menurun, hal ini
disebabkan karena waktu penyimpanan suatu sediaan
semakin lama dan suhunya semakin tinggi. Absorbansi merupakan nilai dimana suatu larutan dapat menyerap cahaya
yang dilewatkan dengan panjang gelombang tertentu, sehingga nilai absorbansi
akan sebanding dengan konsentrasi suatu zat. Maka pada percobaan ini
hasilnya sesuai dengan literatur karena berdasarkan literatur suhu dan
kestabilan suatu zat berbanding terbalik, artinya semakin tinggi suhu maka akan
mempercepat reaksi penguraian suatu zat sehingga kestabilannya berkurang.Jadi
dapat diketahui, aplikasi obat dalam bidang farmasi yakni kestabilan obat suatu
zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu
sediaan farmasi. Hal ini sangat penting mengingat suatu sediaan biasanya di
produksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama sehingga dapat
mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang.
Adakalanya hasil uraian tersebut bersifat toksit sehingga dapat dipilih kondisi
pembuatan sediaan yang tepat sehingga kestabilan obat terjaga. Selanjutnya
dalam penentuan waktu kadaluarsa larutan Indometasin yang pertama yaitu
menentukan tingkat/orde reaksi penguraian dengan metode substitusi dan metode
grafik yang mana dari data pengamatan didapatkan hasil
konsentrasi yang nilai r nya mendekati -1 atau 1 yaitu ada pada orde
reaksi 0 pada suhu 600 C sebesar -0,921dan pada
suhu 800 C0,986, dimana nilai r
adalah koefisien korelasi yang jika data dalam tabel
kurva kalibrasi membentuk korelasi yang sempurna (yaitu hubungan linear
sempurna), r = 1. Selanjutnya
menghitung nilai Energi aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan Arrhenius,
dimana dari hasil perrhitungan didapatkan nilai Ea sebesar -13066,038, fungsi dari digunakannya persamaan Arrhenius
adalah untuk menggambarkan pengaruh dari perubahaan
suhu pada tetapan reaksi dan tentunya laju reaksi. Dan terakhir menghitung
waktu kadaluarsa larutan Indometasin pada suhu kamar dan dihasilkan sebesar
165361 ,187 jam.
VIII.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.
Tingkat/orde
reaksi penguraian suatu larutan Indometasin yaitu pada orde 0.
2.
Energi
aktivasi dari suatu larutan Indometasin dihasilkan sebesar -13066,038
kal/0 mol.
3.
Waktu kadaluarsa
suatu larutan Indometasin dihasilkan selama 165361 ,187 jam.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2013. “Penuntun
Praktikum Farmasi Fisika”.Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Atkins, P.W. 2006. Physical Chemistry 7th Ed. Oxford: Oxford
UniversityPress.
Bird, T. 2003.
Kimia Fisika Untuk Universitas. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Chang, R.
2005. Konsep-konsep Inti Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Fitrah, M., dkk. 2012. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makassar: UIN
Alauddin Makassar.
Fitriani, Y.N., INHS. Cakra.,
Yuliati, N., Aryantini. D. 2015. Formulasi
and
Evaluasi Stabilitas Fisik Suspensi Ubi Cilembu (Ipomea batatas L.)
dengan Suspending Agent CMC Na dan PGS Sebagai
Antihiperkolesterol.Jurnal Farmasi Sains Dan
Terapan. Volume
2. Nomor 1.Hal. 22-26.
Joshita. 2008. Obat-obat
Untuk Paramedis. Jakarta: UI Press.
Khopkar.
2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Martin, A., Swarbrick, J.dan Cammarata, A. 2008.
Farmasi Fisika
Buku I.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Comments
Post a Comment